Revormer | Member of IMNU Banyumas

Cara Cek Saldo Dan Transfer Dengan SMS Banking Mandiri

Cara Cek Saldo Dan Transfer Dengan SMS Banking Mandiri


Cara cek saldo dan transfer dengan SMS Banking Mandiri | Jadi begini ceritanya, awalnya revormer mengalami kendala dimana aplikasi Mandiri Online yang terpasang di perangkat android tiba-tiba terhapus. 

Akibatnya rencana transfer menggunakan Mandiri Online terpaksa batal. Diperparah dengan jaringan internet yang lemod, membuat proses download aplikasi Mandiri Online tersendat dan ngadat

Untungnya opsi kedua bisa dijalankan dengan SMS Banking Mandiri. Memang sebelum nasabah Bank Mandiri mendaftarkan fasilitas Mandiri Online, syaratnya harus terdaftar dalam layanan sms banking mandiri.


Baca juga : Cara Buka Blokir Mandiri Online 



Jadi secara otomatis kalau kita ingin menjalankan aplikasi Mandiri Online di perangkat mobile, maka sudah mencakup layanan sms banking mandiri itu sendiri

Namun sebaliknya, apabila nasabah hanya ingin mengaktifkan layanan sms banking mandiri saja, maka fitur layanan mobile banking mandiri tidak perlu untuk didaftarkan

Nah, salah satu kelebihan dari fitur  SMS Banking Mandiri ini adalah untuk melakukan transaksi cek saldo, transfer uang, pembayaran, pembelian dan transaksi lainnya, nasabah tidak perlu menggunakan media internet, cukup dengan sinyal gsm atau cdma saja, proses transaksi bisa dilakukan.

Apalagi untuk nasabah yang kebetulan tinggal / berada di daerah minim jaringan internet, maka SMS Banking Mandiri ini layak diandalkan

Ok , sekarang kita akan membahas Cara Cek saldo, transfer dan transaksi lainnya dengan menggunakan fasilitas SMS Banking Mandiri.
Baca juga :  Syarat dan Cara Membuat Rekening Mandiri Di luar daerah / kota


Sebagai contoh kali ini revormer akan melakukan transfer ke rekening BNI, berikut langkah-langkahnya yaitu sebagai berikut : 

1. Ketik tanda *141# lalu dial up atau pencet tombol panggil

2. Berikutnya akan muncul tampilan menu pilihan Bank.



3. Pilih Bank Mandiri, di menu pilihan bank no. 6 , lalu kirimkan untuk melanjutkan seperti gambar di atas



4. Selanjutnya akan muncul tampilan menu bank mandiri. Untuk Cek Saldo silahkan pilih menu no. 2 " info " dan untuk melakukan transfer silahkan pilih menu no. 3 " transfer ".

Untuk transaksi lainnya silahkan pilih saja sesuai pilihan menu yang tersedia. Setelah selesai memasukkan nomor/angka yang mewakili menu, silahkan pencet " kirimkan ",  untuk melanjutkan proses transaksi

Cara cek saldo dan transfer dengan sms banking mandiri


3. Misal kita akan melakukan transfer, maka pilih saja menu no. 3 , lalu  pencet "kirimkan" untuk melanjutkan

4. Berikutnya akan muncul tampilan pilihan transfer, mau transfer ke sesama/antar rekening mandiri atau antar bank lainnya. Disini revormer contohkan, transfer ke rekening BNI, maka pilih saja menu no. 2 "antar bank", lalu kirimkan

Cara cek saldo dan transfer dengan sms banking mandiri


5. Setelah itu masukkan nomor rekening tujuan, lalu kirimkan untuk melanjutkan



6. Masukkan jumlah uang yang akan ditransfer, lalu kirimkan untuk melanjutkan



7. Masukkan nomor/angka PIN yang diminta, ingat selalu kode PIN SMS Banking bukan PIN ATM yah, misal PIN SMS Banking 123456, maka ketik saja 12, karena yang diminta adalah no PIN ke -1 dan ke -2. Sudah paham kan sampai disini...



8. Alhamdulillah, Puji Tuhan akhirnya proses transfer dengan SMS Banking Mandiri sudah sukses. Di gambar contoh dibawah ada pilihan untuk memakai redeem fiestapoin untuk membayar biaya transaksi, kalau memang mempunyai poin yang cukup silahkan saja  pilih  ya, kalau tidak abaikan saja, dengan menekan tombol batal. Selesai



Demikian informasi mengenai cara cek saldo, transfer dan transaksi lainnya dengan SMS Banking Mandiri. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, tetap ikuti informasi dan sharing tutorial bersama revormer.com. Sekian, semoga bermanfaat

Salam Cerdas Revormer !






Pengertian dan Serba-serbi I'tikaf Dalam Tinjauan 4 Mazhab

Pengertian I'tikaf dalam 4 Mazhab


Istilah I’tikaf  untuk sebagian besar masyarakat belum banyak yang paham karena mungkin jarang pembahasannya,  sehingga dikalangan masyarakat sekedar mengetahui bahwa  i’tikaf itu berdiam diri di masjid selebihnya tidak mengetahui amalan atau etika apa saja yang harus dikerjakan, syarat-syarat i’tikaf, hukum dan macam-macam i’tikaf dan lain sebagainya yang berhubungan dengan i’tikaf

Bahkan ada yang menganggap bahwa i’tikaf hanya berlaku di bulan ramadhan saja, walaupun sebenarnya pada hari-hari lain mereka melakukan i’tikaf secara tidak langsung.


Definisi atau Pengertian I’tikaf



Dalam bahasa arab, kata I’tikaf artinya berdiam dan bertaut pada sesuatu, entah itu diamnya baik maupun buruk, dan dilakukan secara terus menerus. 
Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.


وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَابَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS Al Baqarah 2:125)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه. ia berkata, Rasulullah biasa beri’tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia, beliau telah beri’tikaf selama dua puluh hari (Haditst Riwayat Bukhari).

Sedangkan secara Istilah, I’tikaf didefinisikan berbeda-beda oleh para ulama. Meskipun sebenarnya, definisi-definisi tersebut mengarah kepada satu pengertian yang sama, jadi perbedaannya lebih karena beda dari segi penyusunan kata-kata. 

Berikut definisi dari mazhab empat tentang pengertian I’tikaf, antara lain :


1. Menurut Imam Hanafi : 
I'tikaf adalah berdiamnya seseorang di masjid – yakni masjid jami’- disertai puasa dan niat I’tikaf.

2. Menurut Imam Maliki :
 I’tikaf adalah berdiamnya seorang muslim yang mumayiz di masjid dengan disertai puasa dengan menjauhi jima’, selama sehari semalam atau lebih dengan tujuan ibadah disertai niat.

3. Menurut Imam Syafi’i: 
I'tikaf adalah berdiamnya seseorang di masjid dengan pengertian khusus dengan disertai niat.

4. Menurut Imam Hambali : 
I'tikaf adalah berdiamnya seseorang di masjid untuk beribadah, dengan tatacara tertentu.


Waktu I’tikaf



I’tikaf boleh dikerjakan pada semua waktu, baik dibulan Ramadhan maupun di waktu-waktu yang lain. 
Dan mengenai lama pelaksanaannya, ulama berbeda pendapat. 
Menurut madzhab Hanafi, I’tikaf sunnah itu sekurang-kurangnya dikerjakan selama tempo yang singkat, yakni tidak ada ukurannya. Jadi menurut mahzab ini, I’tikaf sudah terlaksana hanya berdiam diri didalam masjid disertai niat meskipun hanya beberapa menit.

Sedangkan menurut Malikiyah, I’tikaf itu sekurang-kurangnya sehari semalam. Dan pelakunya wajib berpuasa. jadi, menurut mazhab ini, tidak sah I’tikaf yang tidak diiringi dengan puasa.

Sedangkan Syafi’iyah dan Hanabilah memiliki pendapat yang hampir serupa, yakni I’tikaf itu sekurang-kurangnya dikerjakan sekedar waktu yang dibutuhkan untuk tuma’ninah ketika shalat.

Kesimpulannya, ulama sepakat bahwa I’tikaf boleh dikerjakan di dalam dan di luar Ramadhan. 
Dan jumhur ulama berpendapat, bahwa I’tikaf itu sah dilakukan meskipun dalam tempo yang singkat.


Tempat I’tikaf

Masjid jami’ sah untuk dipergunakan beri’tikaf di dalamnya, hal ini disepakati oleh seluruh ulama’. Berdasarkan hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud, “I’tikaf tidak sah kecuali dimasjid jama’ah.” 
Sedangkan yang disepakati sebagai tempat I’tikaf bagi kaum wanita adalah masjid di rumahnya, yaitu tempat yang dikhususkan untuk shalat baginya. Namun, bila kaum wanita beri’tikaf di masjid, hendaknya dipasang tabir.

Menurut para Imam Madzhab, tempat yang sah untuk I’tikaf  yaitu :



1. Madzhab Maliki: harus di masjid jami’ (masjid yang dipakai shalat Jum’at). Karena itu beri’tikaf di masjid keluarga tidak sah, sekalipun yang beri’tikaf tadi wanita. Juga tidak sah di dalam Ka’bah.

2. Madzhab Hanafi: Mereka berpendapat, dalam masalah masjid disyaratkan hendaklah berupa masjid jamaah, yaitu masjid yang mempunyai imam dan muadzdzin, baik di masjid itu didirikan shalat lima waktu ataupun tidak. 
Ini berlaku apabila orang yang beri’tikaf tadi laki-laki. Sedangkan bagi wanita, maka hendaklah ia beri’tikaf di masjid keluarga yang memang disediakan untuk tempat shalatnya; dan makruh beri’tikaf di masjid jamaah tadi. 
Ia tidak sah beri’tikaf di selain tempat shalatnya yang telah disediakan. Baik ia (sengaja) menyediakan masjid untuknya di rumahnya atau membuat tempat khusus baginya untuk shalat.


3. Madzhab Syafi’i : berpendapat bila orang yang beri’tikaf tadi mempunyai dugaan bahwa masjid tersebut di-wakafkan untuk kepentingan masjid semata. yakni tidak untuk yang lain, maka sah bagi laki-laki dan perempuan ber-i’tikaf di dalamnya, sekalipun bukan masjid jami’ atau tidak boleh untuk umum.


4. Madzhab Hanbali : Mereka berpendapat, i’tikaf itu sah dilaksanakan di setiap masjid bagi laki-laki dan perempuan. Tidak ada ketentuan syarat dalam masalah masjid. itu ada shalat fardhu yang wajib dilaksanakan dengan berjamaah. 
Bila hendak ber-I’tikaf dalam satu masa tertentu itu ada shalat fardlu yang wajib dilaksanakan berjamaah, maka ketika itu i’tikafnya tidak sah kecuali di masjid yang didirikan (shalat) jamaah, sekalipun hanya dengan dua orang mu’takif (orang yang melaksanakan i’tikaf).

Mengenai hal ini ulama berbeda pendapat, jadi madzhab Maliki dan Syafi’I membolehkan I’tikaf dimasjid manapun. Sedangkan, madzhab Hanafi dan Hambali mensyaratkan masjid tersebut harus masjid jami’, yakni masjid tempat dilaksanakannya shalat Jum’at. 
Karena bila I’tikafnya tidak dikerjakan di masjid Jami’, akan batal manakala dia pergi menghadiri kewajiban shalat jum’at. 
Adapun I’tikaf di masjid rumah (mushalla kecil) mayoritas ulama tidak membolehkan.


Macam-macam I’tikaf

I’tikaf ada dua macam:

1. I’tikaf wajib, yaitu i’tikaf yang dinadzarkan. Barangsiapa bernadzar untuk melakukan i’tikaf, maka ia wajib beri’tikaf.

2. I’tikaf sunnat, yaitu selain i’tikaf wajib di atas. Tentang (kemungkinan) menjadi mu’akkad pada suatu saat dan tidak pada saat yang lain.


Hukum I’tikaf



Menurut madzhab Hanbali: sunnat muakkad pada bulan Ramadhan; dan lebih muakkad lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Madzhab Syafi’i : sunnat muakkad pada bulan Ramadhan dan lainnya; dan yang lebih muakkad lagi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. 
Masa i’tikaf itu harus lebih dari sekedar batas waktu membaca: Subhanallah. I’tikaf dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber-I’tikaf. 
Seseorang yang masuk ke dalam masjid dan ia niat ber- I’tikaf maka sah-lah I’tikafnya.

1. Madzhab Hanafi: sunnat kifayah muakkad pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan mustahab pada selain waktu tersebut.

2. Madzhab Maliki: mustahab pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya berdasarkan pendapat yang masyhur. 
Akan tetapi pada bulan Ramadhan (dihukumi) muakkad secara mutlak; dan yang lebih muakkad lagi adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Seluruh ulama’ sepakat bahwa I’tikaf adalah sunnah kecuali yang dinadzarkan. 

3. Sedangkan I’tikaf menurut Hanafiyah itu terbagi menjadi tiga macam : Wajib, sunnah muakkad dan mustahab.

I’tikaf yang wajib adalah yang dinadzarkan. sedangkan yang sunnah muakkad adalah I’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Dan yang mandhub/sunnah adalah yang dikerjakan pada waktu-waktu selain itu. 
Batas minimal i’tikaf itu sehari semalam berdasarkan pendapat yang rajih/kuat.


Syarat dan Rukun I’tikaf

Ada dua penjelasan yang berbeda mengenai hal ini. Sebagian ulama memisahkan antara rukun dan syarat I’tikaf, sedangkan dalam penjelasan yang lain, ulama cendrung menggabungkan antara Syarat dan rukun I’tikaf.



Dalam al Mausu’ah Fiqhiyah al Kuwaitiyah jilid 5, pada halaman 208-209 disebutkan, bahwa syarat I’tikaf itu ada 5, yakni : 
1. Islam
2. Berakal / tamyiz
3. Suci dari haid
4. Suci dari nifas
5. Suci dari junub

Sedangkan rukun I’tikaf itu menurut jumhur (mayoritas) ulama ada empat, yaitu : 
1. Orang yang beri’tikaf, 
2. Niat, 
3. Tempat beri’tikaf dan berdiam di masjid.

Sedangkan Hanafi berpendapat, rukun I’tikaf hanya berdiam di masjid.

Dalam kitab Fiqh al Islami wa Adillatuhu (3/133-134), untuk sahnya I’tikaf disyaratkan hal-hal berikut :

1. Islam. Tidak sah dilakukan oleh orang-orang kafir sebab I’tikaf adalah cabang dari iman.

2. Berakal atau tamyiz. Tidak sah dilakukan oleh orang gila atau sejenisnya, juga tidak sah dilakukan oleh bocah yang belum mumayyiz.

3. Bertempat dimasjid. I’tikaf tidak sah dilakukan dirumah atau tempat selain masjid, berdasarkan hadits Rasulullah;

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتِ :وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ بِصَوْمٍ ، وَلاَ اعْتِكَافَ إِلاَّ فِى مَسْجِدٍ جَامِعٍ (رَوَاهُ أَبُو دَاوُد)

“Dan tiada I’tikaf kecuali dengan puasa (ramadhan), dan tiada I’tikaf kecuali di masjid jami’ (H.R. Abu Daud)


4. Niat. Ulama bersepakat I’tikaf tidak sah tanpa adanya niat, niat ber-I’tikaf karena Allah, misalnya dengan mengucapkan:

(نَوَيْتُ اْلاِعْتِكاَف للهِ تَعاَلَى)

“Aku berniat I’tikaf karena Allah.”


Menurut Madzhab Syafi’i , niat itu tidak disyaratkan dilakukan ketika tetap di dalam masjid , sekalipun secara hukumnya saja. 
Maka ini juga mencakup orang yang bolak-balik di masjid. Karenanya, niat itu cukup (sah) dilakukan ketika lewat, berdasarkan pendapat yang mu’tamad (paling kuat dan dipergunakan).


5. Suci dari junub, haid dan nifas. Ini adalah syarat menurut jumhur.


Berbeda menurut Madzhab Maliki dan Madzhab Hanafi:

Madzhab Hanafi: berpendapat bahwa bersih dari junub merupakan syarat bolehnya i’tikaf, bukan syarat sahnya.


Madzhab Maliki: berpendapat bahwa suci dari junub bukanlah syarat sahnya i’tikaf, melainkan hanya syarat boleh diam di masjid. Bila di tengah-tengah i’tikafnya tejadi junub karena suatu sebab yang tidak membatalkan i’tikaf, seperti bermimpi, sementara di masjid tidak ada air, maka ia wajib keluar untuk mandi di luar masjid, dan setelah mandi hendaklah ia iangsung kembali lagi. 

Jika tidak segera kembali ke masjid setelah mandi, maka i’tikafnya batal, kecuali bila keterlambatannya itu karena ada keperluan yang menyangkut kebutuhannya seperti memotong kuku atau mencukur kumisnya, maka i’tikafnya tidak batal.


Sedangkan suci dari haid dan nifas, mutlak sebagai syarat bagi sahnya i’tikaf, dinadzarkan ataupun tidak, karena di antara syarat sahnya i’tikaf adalah berpuasa, sementara haid dan nifas adalah penghalang bagi sahnya puasa.


Bila di tengah-tengah i’tikafnya tejadi haid atau nifas, maka ia wajib keluar dari masjid, kemudian kembali lagi setelah keduanya (haid/nifas) itu berakhir untuk menyempurnakan i’tikaf yang telah ia nadzarkan atau ia niatkan ketika masuk masjid. 

Untuk yang dinadzarkan, hendaklah ia beri’tikaf (untuk menyempurnakan) sisa hari-hari i’tikafnya juga mengganti hari-hari udzurnya.

6. Izin suami bagi istrinya.
I’tikaf seorang wanita tanpa seizin suaminya tidak sah, sekalipun i’tikafnya itu dinadzarkan. 
Baik ia tahu pasti bahwa suaminya itu membutuhkannya untuk senggama atau menduganya demikian atau tidak.


Madzhab Syafi’i dan Madzhab Maliki berbeda pendapat dalam masalah ini.

Madzhab Syafi’i : Mereka berpendapat, bila seorang wanita ber-I’tikaf tanpa seizin suaminya, maka i’tikafnya tetap sah tapi ia berdosa. Dan dimakruhkan ber’itikaf sekalipun diizinkan, bila ia seorang yang cantik.


Madzhab Maliki berpendapat, tidak boleh bagi wanita bernadzar i’tikaf atau melakukan i’tikaf tathawwu’ tanpa seizin suaminya, bila ia tahu atau mempunyai dugaan bahwa suaminya itu membutuhkannya untuk senggama. 

Bila ia lakukan itu tanpa seizinnya, maka i’tikafnya (tetap) sah, dan sang suami boleh membatalkan i’tikaf istrinya dengan alasan untuk senggama, selain itu tidak.


Perkara Wajib, Etika, Yang Makruh Dan Hal-Hal Yang Membatalkan I’tikaf


a) Wajib

Para fuqaha sepakat bahwa dalam I’tikaf wajib, pelaksana harus tetap berada di dalam masjid agar terwujud rukun I’tikaf, yaitu tinggal dan berdiam diri. Dia tidak boleh keluar kecuali dengan idzin syar’I , darurat, atau kebutuhan. Tetapi kalangan hanafi membolehkan keluar bagi I’tikaf nafilah.

b) Etika dan sunnah I’tikaf
- Bagi orang yang ber I’tikaf dianjurkan mengisi waktu sebisa mungkin, siang malam, dengan shalat, membaca al-Quran, berdzikir, dan ibadah atau amal sholeh yang lainnya di wilayah sekitar masjid.
- Disunnahkan berpuasa bagi orang yang beri’tikaf menurut jumhur.

- Disunnahkan I’tikaf itu dikerjakan dimasjid jami’, yakni menurut madzhab Maliki dan syafi’I yang tidak mensyaratkan I’tikaf harus di masjid Jami’. 
Sedangkan madzhab Hanafi dan Hambali mewajibkan I’tikaf harus dikerjakan di masjid Jami’.

- Disunnahkan I’tikaf dibulan Ramadhan.

- Orang yang ber I’tikaf disunnahkan tinggal di masjid pada malam idul fitri apabila I’tikafnya bersambung dengan malam tersebut.

- Orang yang beri’tikaf hendaknya menjauhi segala perkataan dan perbuatan yang tidak berkaitan dengan dirinya serta tidak boleh banyak berbicara. 
Sebagaimana yang disebutkan oleh hadits, 
“Sebagian dari ciri bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak ada berhubungan dengan dirinya.” (HR. Tirmidzi)



c) Hal-hal yang Makruh dalam I’tikaf

1. Meninggalkan sebagian etika diatas adalah makruh.

2. berI’tikaf tanpa perlengkapan yang jika tidak dibawa, maka akan merepotkannya.

3. menghadirkan barang dagangan dimasjid.

4. Diam, tidak berbicara sama sekali dengan seseorang: “Seseorang tidak boleh menutup mulut (diam) selama sehari semalam.” (HR. Abu Dawud)

5. Mengisi waktu dengan segala perbuatan selain dzikir, membaca al Quran dan shalat.

6. mengucapkan salam kepada yang jauh, tapi boleh mengucapkan salam kepada orang yang dekat.

7. Makruh masuk rumah yang disitu ada istrinya pada saat dia keluar dari masjid atau buang hajat, agar dia tidak terdorong melakukan suatu perbuatan dengan istrinya yang membatalkan I’tikafnya.


d) Hal-hal yang membatalkan I’tikaf

- Keluar tanpa udzur yang syar’I (misalnya keluar untuk berjual beli), atau tanpa ada dorongan untuk menunaikan hajat alami ( buang air kecil atau besar), atau tanpa ada keadaan darurat (seperti robohnya masjid).

- Jima’. Menurut jumhur ulama, meskipun ini dilakukan karena lupa atau dipaksa, baik pada siang atau malam hari, maka batallah I’tikafnya. Sedangkan bila sengaja, batal menurut ijma’ (kesepakatan) ulama.

- Murtad.

- Mabuk dengan sengaja.

- Pingsan dan gila dalam tempo yang lama (hingga berhari-hari) ini menurut jumhur ulama’.

- Haid dan Nifas bagi wanita.

- Melakukan dosa besar.



Dalam pandangan hukum islam, para ulama dan jumhur ulama berbeda pendapat tentang definisi, hukum, tempat maupun rukun i’tikaf. 
Namun secara garis besar 4 imam madzhab menganjurkan beri’tikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena dalam i’tikaf kita bisa mengambil berbagai hikmah, seperti;

1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah .

2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan jiwa.

3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.

4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadr.

5. I’tikaf adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.

6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci Ramadhan
Kita sebagai generasi penerus seharusnya bisa membiasakan diri untuk menjalankan ibadah sunnah yang dianjurkan, seperti i’tikaf ini, agar semakin dekat dengan Allah SWT serta meramaikan masjid untuk kegiatan ibadah selain sholat.

Demikian artikel  tentang I’tikaf dalam 4 madzhab yang penulis rangkum dari jas hijau.wordpress.com, semoga bisa memberikan pemahaman lebih kepada kita tentang pengertian, macam-macam, hukum, syarat dan rukun beri’tikaf.

Kumpulan Lagu Jikustik Yang Paling Romantis

Lirik lagu jikustik paling romantis


Jikustik adalah grup musik Indonesia yang terbentuk tanggal 26 Februari 1996 di Yogyakarta yang formasi awalnya adalah: Pongki Barata (vokal, gitar), Icha (bass, vokal), Dadi (gitar, vokal), Adhit (keyboard) dan Carlo (drum). Setelah album ke-delapan (Malam) Pongki keluar dan digantikan oleh Brian sebagai vokalis. Setelah album ke-sembilan (Kembali Indah), sang pencabik bass, Icha, mengundurkan diri dan digantikan oleh Bayu.



Pada bulan Februari 1996, sekumpulan anak muda sepakat mendirikan G-Coustic. Huruf 'G' berasal dari nama Geronimo FM, sebuah radio di Jogja, yang berperan dalam berdirinya Jikustik.

Sedangkan Coustic berasal dari kata acoustic. Geronimo FM memiliki sebuah program radio yang mendukung band-band independen untuk memperdengarkan karya mereka pada khalayak ramai, G-indie. Dari situlah dua lagu berjudul "Berdua Lagi" dan "Seribu Tahun Lamanya" mulai dikenal khalayak Jogja.


Sebelum bergabung dengan Jikustik, Icha dan Adhit pernah membentuk grup band bersama Eross "Sheila on 7" . Kelompok musik mereka bernama Dizzy dan sering tampil di acara sekolah dan kampus. Dizzy membawakan lagu rock n roll sampai top 40 dengan Icha sebagai vokalisnya.

Tahun 1999, sebuah album rekaman independen, "Bulan di Yogya", menjadi langkah awal G-Coustic menapaki belantara musik Indonesia. Album tersebut berisi lagu-lagu, "Bulan di Pangkuan", "Bersanding Denganmu", "Rie...", "Menunggumu Pulang", "Seribu Tahun Lamanya", "Separuh Hati", "Didera Hujan", dan "Adinda". Album itu di produseri oleh Woodel's Production, yang akhirnya mempertemukan G-Custic dengan Warner Music Indonesia.

Tahun 2000 terciptalah album "Seribu Tahun" dan Jikustik terlahir. Pongki dan Icha merupakan anggota yang paling aktif dalam menciptakan lagu. Tidak hanya untuk grup mereka sendiri, mereka juga menciptakan lagu untuk penyanyi lain dan banyak yang akhirnya menjadi hits.

Lagu ciptaan mereka dibawakan oleh, antara lain, Audy, Iwan Fals, Chrisye dan Rossa. Penyanyi Malaysia pun membawakan lagu ciptakan dari personel Jikustik itu. Siti Nurhaliza dengan lagu "Seindah Biasa" ciptaan Pongki. Serta Sheila Madjid yang menyanyikan lagu Icha berjudul "Cobalah Bertahan".

Jikustik sempat menjadi Ambassador di beberapa perusahaan baik lokal Yogyakarta maupun nasional. Band yang cukup banyak digemari dari segala kalangan baik muda maupun tua tersebut sering diundang di acara-acara pelajar seperti acara tutup tahun sekolah, acara perusahaan serta instansi-instansi.


Begitulah sekilas mengenai profil band legendaris Jikustik yang revormer dapatkan dari wikipedia. Berikut kumpulan lagu Jikustik yang liriknya paling romantis versi revormer. com :


Saat Kau Tak Disini
Jikustik


Seperti bintang-bintang hilang ditelan malam
Bagai harus melangkah tanpa ku tahu arah

Lepaskan aku dari derita tak bertepi
Saat kau tak di sini ...

Seperti dedaunan berjatuhan di taman
Bagaikan debur ombak mampu pecahkan karang

Lepaskan aku dari derita tak berakhir
Saat kau tak di sini ...


Reff : 

Saat kau tak ada atau kau tak di sini
Terpenjara sepi ku nikmati sendiri
Tak terhitung waktu tuk melupakanmu
Aku tak pernah bisa .... ( 2x )

~o~o~o~o~


Setia
Jikustik


Deras hujan yang turun
Mengingatkanku pada dirimu
Aku masih disini untuk setia

Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau dimana
Tapi aku mencoba untuk setia

Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak disampingku

Aku masih disini untuk setia


~o~o~o~o


Seribu Tahun Lamanya
Jikustik

Bila
Kau sanggup untuk melupakan dia
Biarkan aku hadir dan menata
Ruang hati yang telah tertutup lama

Jika
Kau masih ragu
Untuk menerima
Biarkan hati
Kecilmu bicara
Karena kutahu kan datang saatnya

Bridge :

Kau jadi bagian hidupku
Kau jadi bagian hidupku

Reff :

Takkan pernah berhenti
Untuk selalu percaya
Walau harus menunggu
Seribu tahun lamanya

Biarkanlah terjadi
Wajar apa adanya
Walau harus menunggu
Seribu tahun lamanya

Jika 
kau masih ragu
Untuk menerima
Biarkan hati
Kecilmu berbicara

Karena kutahu
Kan datang saatnya

Back to Bridge

Selama apapun itu

Aku kan setia menunggu

Back to reff


~o~o~o~


Untuk Dikenang
Jikustik


Ingat Aku, Saat Kau Lewati
Jalan Ini, Setapak Berbatu

Kenang Aku, Bila Kau Dengarkan
Lagu Ini, Terlantun Perlahan


Reff I

Barisan Puisi Ini ...
Adalah Yang Aku Punya 

Mungkin Akan Kau Lupakan 
Atau Untuk Dikenang.

Ingat Aku Bila Kau Terasing
Dalam Gelap Keramaian Kota

Reff II

Tulisan DariKu Ini
Mencoba Mengabadikan 

Mungkin Akan Kau Lupakan 
Atau Untuk Dikenang.

Doakanlah Aku Malam Ini
Sebelum Kau, Mengarungi Malam

Back to reff I & II


~o~o~o~o~


PUISI
Jikustik


Aku yang pernah
Engkau kuatkan


Aku yang pernah
Kau bangkitkan


Aku yang pernah
Kau beri rasa


Saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingatmu


reff :

Kapan lagi kutulis untukmu
Tulisan tulisan indahku yang dulu
Warna warnai dunia
Puisi terindahku hanya untuk mu

Mungkinkah kaukan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untukmu

kembali ke reff. 

Pentingnya Warga Desa Tahu Panduan Pendirian dan Tata Kelola BUMDes


 Panduan Pendirian dan Tata Kelola BUMDes


Assalamu alaikum
Sahabat Revormer, kali ini kita akan belajar bareng tentang segala hal yang berkaitan dengan Badan Usaha Milik Desa ( BUMDes ). Mengapa ? karena sebagai bagian dari warga negara yang baik sudah seharusnya kita mengerti dan memahaminya, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah agar setiap warga Negara dapat membantu pemerintah mengawal program kebijakan ini  dan membantu masyarakat desa tumbuh berkembang dalam mengimplementasikan BUMDes


Popular Posts