KARPET MAKAN KELENGKENG - REVORMER.COM
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
WPDealer 728x90

KARPET MAKAN KELENGKENG



Oleh : Henny Puspitasari

“Kelengkengnya kok sudah dikupas semua? Pasti karpet ini yang mengupas kelengkeng! Kalau sudah dikupas begini nggak enak. Enaknya dikupas kalau mau dimakan.”
Aku tersenyum.

~o~

“Ya sudah, aku ambilkan lagi ya”, sahutku.
Padahal aku melihat, emak sendiri yang telah mengupas kelengkeng itu.
Bukan sekali hal ini terjadi. Kemarin, emak lupa meletakkan hakpen rajutnya. Seisi rumah kebingungan mencarinya. Emak mencak-mencak, mengira ada yang menyembunyikannya. Ternyata hakpen itu dia simpan di bawah kasurnya. Lain waktu dia bercerita pada tamu kalau dia belum makan seharian. Padahal emak baru makan. Dan sehari itu emak sudah makan lima kali.

~o~

Emak bahkan pernah mengusirku. Dia lupa kalau aku anaknya. Dia mengira aku anak tetangga yang pernah bermusuhan dengan kakakku. Pernah pula anak tetangga dikira adikku yang sudah meninggal. Sudah tak terhitung pula perabotan yang pecah saat dipegang emak. Sudah tak terhitung  berapa kali emak berhasil lolos dari pengamatan kami. Ujung-ujungnya emak kesasar atau salah rumah.

~o~

Orang mengatakan emak sudah pikun. Atau bahasa kerennya Alzheimer. Tapi bagi kami anak-anaknya, keadaan emak adalah pintu. Pintu untuk menunjukkan seberapa besar kasih sayang kami pada emak.
“Kuncinya ikhlas. Seperti emak yang ikhlas merawat kita dari kecil”, begitu kata kakak sulungku.

~o~

Aku mengangguk setuju. Tak terasa air mataku mengalir. Terbayang lagi masa-masa kecilku. Saat aku menangis, emak memelukku erat sambil membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan hatiku. Saat aku sedih, emak menghiburku hingga aku bisa tersenyum kembali. Tanpa aku sadari, emak telah mengajariku tentang kasih sayang, tentang tanggung jawab dan tentang kehidupan.

Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, pernahkah aku mengucapkan terima kasih pada emak? Entahlah .. ! 



Posting Komentar untuk "KARPET MAKAN KELENGKENG"