Pengertian Maulid Nabi (Itu Bukan Bid'ah) 2018 - REVORMER

Google Search

Pengertian Maulid Nabi (Itu Bukan Bid'ah) 2018


Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat kehidupan kepada seluruh makhlukNYA.Apa kabarnya 

Sahabat sekalian yang budiman, menyambut Tahun Baru Islam 1440 Hijriyah ini saya secara khusus mengangkat tema tulisan artikel kali ini tentang "Maulid Nabi Muhammad SAW"  kadang-kadang masyarakat ada yang menyebut Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد النبي‎, mawlid an-nabī).

Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan atau perayaan Hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, yang biasa diperingati pada setiap tanggal 12 Rabiul Awa menurut kalender Hijiriyah atau penanggalan Islam. Kata maulid atau milad dalam bahasa ararab berarti Hari Kelahiran. Peringatan Maulid Nabi Muhammad merupakan tradisi yang berkembang di kalangan umat muslim, jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Substansi dan pesan moral yang terkandung dalam peringatan Maulid Nabi ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah berjasa tiada bandingnya dengan membawa suatu ajaran yang sangat mulia berisi ajakan kebaikan dan kebenaran pada umat manusia.


Ajaran beliau  bagaikan sebuah pelita yang menerangi kegelapan malam dalam sejarah kelam peradaban masyarakat Arab di masa Jahiliyah.Dan pada akhirnya membawa perubahan yang fundamental bukan hanya pada masyarakat arab namun keluar menembus batas-batas jazirah arab hingga ke seluruh penjuru bumi.Subhanallah.

Sahabat Aswaja yang dirahmati Allah,seyogyanya selain kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, alangkah baiknya kita juga mengenal lebih jauh sejarah kelahiran beliau.Berikut sejarah singkatnya.

Sejarah Singkat Kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad SAW


Mengapa tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut sebagai Tahun Gajah ?.Adapun sebab di namakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW itu dengan tahun Gajah,karena pada tahun tersebut,kota Mekah di serang oleh bala tentara   kuat yang menunggangi Gajah di bawah pimpinan Abrahah,gubernur dari kerajaan Abessinia yang memerintah di Yaman,dan mereka bermaksud menghancurkan Ka'bah.Belum sampai maksud mereka tercapai,mereka sudah di hancurkan oleh Allah SWT dengan mengirimkan burung Ababil.Burung Ababil adalah burung yang dikirim oleh Allah dengan menjatuhkan batuan panas hingga bala tentara Pimpinan Gubernur Abrahah banyak yang  binasa dan akhirnya mengundurkan diri dari Kota Mekkah.


Sahabat Aswaja yang dirahmati Allah,

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Qushai pahlawan suku Quraisy yang berhasil menggulingkan kekuasaan Khuza'ah atas kota Mekah.Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim bin Abdumanaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah dari golongan Arab Banu Ismail.Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdumanaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah,di sinilah silsilah keturunan ayah dan ibu Nabi Muhammad s.a.w.bertemu.Baik keluarga dari pihak bapak maupun dari ibu keduanya termasuk golongan bangsawan dan terhormat dalam kalangan kabilah-kabilah Arab.




Sudah menjadi kebiasaan masyarakat arab waktu itu yang tinggal di   kota Mekah,terutama mereka yang tergolong bangsawan,menyusukan dan menitipkan bayi-bayi mereka kepada wanita badiyah (dusun di padang pasir) agar bayi-bayi itu dapat menghirup hawa yang bersih, terhindar dari penyakit-penyakit kota dan supaya bayi-bayi itu berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih.Demikianlah halnya nabi Muhammad s.a.w. beliau di serahkan oleh ibunya kepada seorang perempuan yang baik,Halimah Sa'diyah dari Bani Sa'ad kabilah Hawazin,tempatnya tidak jauh dari kota Mekah.Di perkampungan Bani Sa'ad inilah Nabi Muhammad s.a.w di asuh dan di besarkan sampai berusia lima tahun.Kemudian diasuh oleh Paman beliau yang bernama Abu Thalib hingga menginjak dewasa.


Sejarah awal Peringatan atau Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sahabat Aswaja ,berikut sejarah awal mula acara perayaan atau peringatan Maulid Nabi yang saya himpun dari berbagai sumber,sahabat bisa juga klik link www.wikipedia.com apabila ingin membaca lebih jauh bagaimana sejarah dan latar belakang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW bermula.

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:

Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.
Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, dia mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, Al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-Nadzir”. Karya ini kemudian dia hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar.
Para ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadis telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti Al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H), Al-Hafizh As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Hafizh Al-Sakhawi (w. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Imam Al-Nawawi (w. 676 H), Al-Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan Mufti Beirut Lubnan yaitu Syeikh Mushthafa Naja (w. 1351 H), dan terdapat banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan Al-Imam Al-Suyuthi menulis karya khusus tentang Maulid yang berjudul “Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid”. Karena itu perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.
Para ahli sejarah, seperti Ibn Khallikan, Sibth Ibn Al-Jauzi, Ibn Kathir, Al-Hafizh Al-Sakhawi, Al-Hafizh Al-Suyuthi dan lainnya telah sepakat menyatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan peringatan maulid adalah Sultan Al-Muzhaffar. Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Salahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela islam pada masa Perang Salib.
Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
صَلَاحِ الدِّينِ الَّذِي فَتَحَ مِصْرَ ؛ فَأَزَالَ عَنْهَا دَعْوَةَ العبيديين مِنْ الْقَرَامِطَةِ الْبَاطِنِيَّةِ وَأَظْهَرَ فِيهَا شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ
Artinya:
Sholahuddin-lah yang menaklukkan Mesir. Dia menghapus dakwah ‘Ubaidiyyun yang menganut aliran Qoromithoh Bathiniyyah (aliran yang jelas sesatnya, pen). Shalahuddin-lah yang menghidupkan syari’at Islam di kala itu.
Dalam perkataan lainnya, Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni rahimahullah mengatakan,
فَتَحَهَا مُلُوكُ السُّنَّة مِثْلُ صَلَاحِ الدِّينِ وَظَهَرَتْ فِيهَا كَلِمَةُ السُّنَّةِ الْمُخَالِفَةُ لِلرَّافِضَةِ ثُمَّ صَارَ الْعِلْمُ وَالسُّنَّةُ يَكْثُرُ بِهَا وَيَظْهَرُ
Artinya:
Negeri Mesir kemudian ditaklukkan oleh raja yang berpegang teguh dengan Sunnah yaitu Shalahuddin. Dia yang menampakkan ajaran Nabi yang shahih di kala itu, berseberangan dengan ajaran Rafidhah (Syi’ah). Pada masa dia, akhirnya ilmu dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin terbesar luas.
Sumber lain mengatakan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi.
Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah az-Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”
Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustaz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).

Demikian kiranya yang bisa saya sampaikan.Adapun kesimpulannya adalah bahwa Perayaan atau Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak bisa disebut Bid 'ah hal ini dikarenakan Niat dan Tujuan serta semangat umat Islam dalam menghormati Beliau dalam Maulid Nabi Muhammad SAW tidak dicampuri dengan sesuatu aktifitas kemusyrikan.Selama tidak ada syariat yang dilanggar dan selama perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut membawa pesan kebajikan yang syar'i maka Umat Islam tak ada keraguan sedikitpun untuk mengatakan "Maulid Nabi Muhammad SAW Bukanlah Bid'ah !!!".

Semoga bermanfaat, Wassalam

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Pengertian Maulid Nabi (Itu Bukan Bid'ah) 2018"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar yang Positif No Link dan SARA
Terima kasih

Popular Posts

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel